Monday, 2 September 2013

Asuhan Keperawatan Sectio Caesaria (SC)

ASUHAN KEPERAWATAN SECTIO CAESAREA
ATAS INDIKASI PREEKLAMSI

A.    Sectio Caesarea
1.      Pengertian
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut (Mochtar, 1992).
Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 1991).

2.      Indikasi
Indikasi sectio caesarea menurut Cuningham (2005):
a.       Riwayat sectio caesarea
Uterus yang memiliki jaringan parut dianggap sebagai kontraindikasi untuk melahirkan karena dikhawatirkan akan terjadi rupture uteri. Risiko ruptur uteri meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya, klien dengan jaringan perut melintang yang terbatas disegmen uterus bawah, kemungknan mengalami robekan jaringan parut simtomatik pada kehamilan berikutnya. Wanita yang mengalami ruptur uteri berisiko mengalami kekambuhan, sehingga tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan persalinan pervaginam tetapi dengan beresiko ruptur uteri dengan akibat buruk bagi ibu dan janin.
b.      Distosia persalinan
Distosia berarti persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya kemajuan persalinan, persalinan abnormal sering terjadi terdapat disproporsi antara bagian presentasi janin dan jalan lahir, kelainan persalinan terdiri dari:
1)      Ekspulsi (kelainan gaya dorong)
Oleh karena gaya uterus yang kurang kuat, dilatasi servik (disfungsi uterus) dan kurangnya upaya utot volunter selama persalinan kala dua.
2)      Panggul sempit.
3)      Kelainan presentasi, posisi janin.
4)      Kelainan jaringan lemak saluran reproduksi yang menghalangi turunnya janin.
5)      Gawat janin.
Keadaan gawat janin bisa mempengaruhi keadaan janin, jika penentuan waktu sectio caesarea terlambat, kelainan neurologis seperti cerebral palsy dapat dihindari dengan waktu yang tepat untuk sectio caesarea.
6)      Letak sungsang.
Janin dengan presetasi bokong mengalami peningkatan resiko prolaps tali pusat dan terperangkapnya kepala apabila dilahirka pervaginam dibandingkan dengan janin presentasi kepala.

3.      Kontra Indikasi
Umumnya sectio caesarian tidak dilakukan pada janin mati, syok, anemi berat sebelum diatasi, kelainan kongenital berat (monster).

4.      Teknik Sectio Caesarea
a.       Insisi Abdomen.
1)      Insisi vertikal.
Insisi vertikal garis tengan intra umbilikus, insisi ini harus cukup pajang agar janin dapat lahir tanpa kesulitan. Oleh karena itu, panjang insisi harus sesuai dengan taksiran ukuran janin.
2)      Insisi transversal atau lintang.
Kulit dan jaringan subkutan disayat dengan menggunakan insisi transversal rendah sedikit melengkung. Insisi dibuat setinggi garis rambut pubis dan diperluar sedikit melebihi batas lateral otot rektus.
b.      Insisi Uterus
1)      Insisi caesarea klasik.
Insisi caesarea klasik adalah suatu insisi vertikal ke dalam korpus uterus diatas segmen bawa uterus dan mencapai fundus uterus. Sebagian besar insisi dibuat di segmen bawah uterus secara melintang, insisi melintang disegman bawah memiliki keunggulan yaitu hanya memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium dibawahnya. Indikasi untuk dilakukan insisi klasik untuk melahirkan janin:
a)      Apabila segman bawah uterus tidak bisa dipajankan atau dimasuki dengan aman karena kandung kemih melekat dengan erat akibat pembedahan sebelumnya, atau apabila teardapat karsinoma invasif di servik. Janin berukuran besar, terletak melintang, selaput ketuban sudah pecah dan bahu terjepit jalan lahir.
b)      Plasenta previa dengan implantasi anterior.
c)      Janian kecil, presentasi bokong, segman bawah uterus tidak menipis.
d)     Obesitas berat.
2)      Insisi caesarea transversal.
Insisi tranversal melalui segman bawah uterus merupakan tindakan untuk presentasi kepala, diantaranya:
a)      Lebih mudah diperbaiki.
b)      Kemungkinan ruptur disertai keluarnya janin ke rongga abdomen pada kehamilan berikutnya.
c)      Tidak mengakibatkan perlekatan usus.
Insisi uterus harus dibuat cukup lebar agar kepala dan badan janin dapat lahir tanpa merobek atau harus memotong arteri dan vena uterina yang berjalan sepanjang batas lateral uterus.
5.      Komplikasi
Komplikasi sectio caesarea mencakup periode masa nifas yang normal dan komplikasi setiap prosedur pembedahan utama. Kompikasi sectio caesarea menurut Hecker, (2001):
a.       Perdarahan
Perdarahan primer kemungkinan terjadi akibat kegagalan mencapai hemostasis ditempat insisi rahim atau akibat atonia uteri, yang dapat terjadi setelah pemanjangan masa persalinan.
b.      Sepsis sesudah pembedahan
Frekuensi dan komplikasi ini jauh lebih besar bila sectio caesarea dilakukan selama persalinan atau bila terdapat infeksi dalam rahim. Antibiotik profilaksis selama 24 jam diberikan untuk mengurangi sepsis.
c.       Cedera pada sekeliling stuktur
Beberapa organ di dalam abdomen seperti usus besar, kandung kemih, pembuluh didalam ligamen yang lebar, dan ureter, terutama cenderung terjadi cedera. Hematuria yang singkat dapat terjadi akibatterlalu antusias dalam menggunakan retraktor didaerah dinding kandung kemih.
Komplikasi pada anak, seperti halnya dengan ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan sectio caesarea banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan sectio caesarea. Menurut statistik di negara-negara dengan pengawasan antenatal dan intra natal yang baik, kematian perinatal pasca sectio caesarea berkisar antara 4 dan 7 % (Sarwono, 1999).

6.      Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik menurut Tucker (1998):
a.       Pemantauan janin terhadap kesehatan janin.
b.      Pemantauan EKG.
c.       Elektrolit.
d.      Hemoglobin/Hematokrit.
e.       Golongan dan pencocokan silang darah.
f.       Urinalisis.
g.      Amniosentesis terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi.
h.      Pemeriksaan sinar x sesuai indikasi.
i.        Ultrasound.


7.      Tatalaksana
Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan sectio caesarea menurut Cuningham, (2005):
a.       Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat.
b.      Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap berkontraksi dengan kuat.
c.       Analgesia meperidin 75-100 mg atau morfin 10-15 mg diberikan, pemberian narkotik biasanya disertai anti emetik, misalnya prometazin 25 mg.
d.      Periksa aliran darah uterus palingsedikit 30 ml/jam.
e.       Pemberian cairan intra vaskuler, 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24 jam pertama setelah pembedahan.
f.       Ambulasi, satu hari setelah pembedahan klien dapat turun sebentar dari tempat tidur dengan bantuan orang lain.
g.      Perawatan luka, insisi diperiksa setiap hari, jahitan kulit (klip) diangkat pada hari keempat setelah pembedahan.
h.      Pemeriksaan laboratorium, hematokrit diukur pagi hari setelah pembedahan untuk memastikan perdarahan pasca operasi atau mengisyaratkan hipovolemia.
i.        Mencegah infeksi pasca operasi, ampisilin 29 dosis tunggal, sefalosporin, atau penisilin spekrum luas setelah janin lahir.


B.     PREEKLAMSI

1.      Pengertian
Preeklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias: hipertensi, proteinuri, dan edema. Umumnya terjadi pada trimester ke III (Prawirohardjo, 2006).
Kenaikan tekanan sistolik harus 30 mmHg atau lebih di atas tekanan yang biasanya, atau mencapai 140 mmHg atau lebih. Tekanan sistolik meningkat lebih 15 mmHg atau lebih atau mencapai 90 mmHg.
Preeklamsi dibagi dalam golongan ringan dan berat. Dinyatakan berat bila ditemukan satu atau lebih dari gejala di bawah ini:
a.       Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih.
b.      Proteinuria 5 g atau lebih dalam 24 jam; 3 atau 4 + pada pemeriksaan kualitatif.
c.       Oliguria, urine 400 cc atau kurang dalam 24 jam.
d.      Keluhan serebral gangguan penglihatan atau nyeri epigastrium.
e.       Edema paru-paru atau sianosis

2.      Etiologi
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori-teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Teori yang dapat diterima: a) primigravida, kehamilan ganda, hidramnion dan mola hidatidosa; b) makin tuanya kehamilan; c) kematian janin dalam rahim; d) edema, proteinuria, kejang dan koma (Prawirohardjo, 2006).

3.      Insiden
Di Indonesia, setelah perdarahan dan infeksi preeklampsia masih merupakan sebab utama kematian ibu, dan sebab kematian perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini preeklampsia yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia, serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak.

4.      Patofisiologi
Pada preeklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Mokhtar, 1998).

5.      Manifestasi klinik
Biasanya tanda-tanda pre eklampsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada preeklampsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. Pada preeklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah. Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul.

6.      Tes Diagnostik
a.       Tes diagnostik dasar
Pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urin, pemeriksaan edema, pengukuran tinggi fundus uteri, pemeriksaan funduskopik.
b.      Tes laboratorium dasar
Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi). Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin, protein serum, aspartat aminotransferase, dan sebagainya).Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin). Uji untuk meramalkan hipertensi
Roll Over test. Pemberian infus angiotensin II.


7.      Penanganan medik
a.       Pencegahan
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti mengenai tanda-tanda sedini mungkin (preeklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklampsia.
Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan.
b.      Penanganan
Tujuan utama penanganan adalah:
1)      Untuk mencegah terjadinya pre eklampsi dan eklampsi.
2)      Hendaknya janin lahir hidup.
3)      Trauma pada janin seminimal mungkin.
Menurut Mansjoer (2001), penanganan preeklampsia ringan adalah:
1)      Pada pasien rawat jalan, anjurkan untuk istirahat baring 2 jam siang hari dan tidur >8 jam malam hari. Bila susah tidur, berikan fenobarbital 1-2 x 30 mg kunjungan ulang diakukan 1 minggu kemudian.
2)      Rawat pasien jika tidak ada perbaikan dalam 2 minggu pengobatan rawat jalan, BB meningkat >1kg/minggu, selama 2 kali berturut-turut atau tampak adanya tanda preeklampsia berat. Berikan obat antihipertensi Metildopa 3 x 125 mg, nifedipin 3-8 x 5-10 mg atau pindolol 1-3 x 5 mg. Jangan berikan antidiuretik dan tidak perlu diet rendah garam.
3)      Jika keadaaan ibu membaik dan tekanan darah dapat dipertahankan 140-150/90-100mmHg, pertahanakan sampai aterm sehingga ibu dapat berobat jalan dan anjurkan periksa tiap minggu. Kurangi dosisi hngga mencapai dosis optimal, tekanan darah tidak boleh < 120mmHg.


Penanganan preeklampsia berat:
Ibu yang didiagnosa preeklamsia berat/sindrom HELLP (preeklamsia berat disertai keluhan-keluhan lainnya) menderita penyakit kritis dan memerlukan penanganan yang tepat. Protokol pelaksanannya masih kontroversi antar rumah sakit saat ini. Pengenalan temuanklinis dan laboratorium sindrom HELLP sangatlah penting jika terapi yang agresif dan dini perlu dilakukan untuk mencegah mortalitas maternal dan perinatal. Serviks yang belum siap (belum berdilatasi atau melunak) karena usia kehamilan dan sifat agresif penyakit ini mendukung dilakukannya operasi sesaria. Induksi persalinan yang lama dapat meningkatkan morbiditas maternal.
1)      Segera rawat pasien di rumah sakit. Berikan MgSO4 dalam infuse Dekstrose 5% dengan kecepatan 15-20 tetes permenit. Dosisi awal MgSO4 2 g IV dalam 10 menit selanjutnya 2 g perjam ddalam drip infuse sampai tekanan darah antara 140-150/90-100 mmHg. Syarat pemberian MgSO4 adalah reflek patella kuat, RR>16 kali permenit, dan dieresis dalam 4 jam sebelumnya (0.5ml/kg BB/jam) adalah  > 100cc. Selama pemberian MgSO4, perhatikan tekanan darah, suhu, perasaan panas, serta wajah merah.
2)      Berikan nifedipin 9-3-4 x 10 mg per oral. Jika pada jam ke 4 diastolik belum turun sampai 20%, tambahkan 10 mg oral. Jika tekanan diastolic meningkat ≥110mmHG, berikan tambahan suglingual. Tujuannya adalah penurunan tekanan darah 20% dalam 6 jam, kemudian diharapkan stabil antara 140-150/90-100mmHg.
3)      Periksa tekanan darah, nadi, dan pernapasan tiap jam. Pasang kateter urin dan kantong urin. Ukur urin tiap 6 jam. Jika < 100ml/4 jam, kurangi dosis MgSO4 menjadi 1g/jam.

8.      Evaluasi
Untuk preeklamsia berat dan/atau HELLP, kondisi berikut harus dipenuhi:
a.       Ibu dan  janin tidak menderita gejala sisa akibat preeklamsia atau penatalaksanaannya.
b.      Ibu tidak akan mengalami eklamsia atau komplikasi yang berat.
c.       Janin tidak akan mengalami distress.
d.      Bayi baru lahir akan dilahirkan dalam kondisi optimal tanpa suatu efek akibat penyakit maternal dan penatalaksanaannya.
e.       Ibu akan melahirkan dalam kondisi optimal tanpa suatu akibat pada kondisi dan penatalaksanaannya.
f.       Keluarga akan mampu berkoping secara efektif terhadap keadaan ibu yang berisiko tinggi, penatalaksanaan, dan hasil akhirnya.


C.    RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Perubahan perfusi jaringan cerebral, renal, plasenta berhubungan dengan vasospasme (arteri spiral), edema, dan penurunan volume intravascular.
NOC:
a.       Serebral
1)      Status sirkulasi: TD dalam rentang normal.
2)      Kemampuan kognitif : menunjukkan perhatian, konsentrasi, dan orientasi.
3)      Terbebas dari kejang.
4)      Tidak mengalami sakit kepala.
b.      Renal
1)      Keseimbangan Cairan/Elektrolit: Uji laboratorium dalam batas normal, tidak ada distensi vena jugularis, tidak ada bunyi nafas tambahan, asupan dan haluaran dalam 24 jam seimbang.
2)      Hidrasi: tidak ada edema, haluaran urin dalam batas normal.
c.       Plasenta
Tidak ada penurunan denyut jantung janin
NIC:
a.       Cerebral, renal
1)      Kaji tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu, dan respirasi, nistagmus, penglihatan kabur.
2)      Kaji reflek tendon profunda (RTP), reflek patella dan dan biseps serta klonus pada pergelangan kaki.
3)      Observasi adanya sakit kepala.
4)      Kaji tingkat kesadaran dan orientasi, perhatikan perubahan pasien sebagai respon terhadap rangsang.
5)      Pantau hasil laboratorium seperti peningkatan BUN, protein serum, dan penurunan hematokrit.
6)      Observasi adanya distensi vena leher dan ronkhi basah kasar.
7)      Kaji tingkat oedema.
8)      Pertahankan keakuratan pencatatan asupan dan haluaran.
9)      Kolaborasi pemberian obat antihipertensi: MgSo4 IM/IV sesuai dengan indikasi.
b.      Placenta
1)      Berikan informasi tentang pencatatan gerakan janin
2)      Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas janin (merokok, kadar glukosa serum, tingkat kebisingan).
3)      Tinjau ulang tanda-tanda abrupsi plasenta (perdarahan vagina, nyeri tekan uterus, nyeri abdomen dan penurunan aktifitas janin).
4)      Pantau DJJ secara manual atau elektronik sesuai indikasi
5)      Perhatikan respon janin pada obat-obatan seperti MgSO4, fenobarbitol dan diazepam.

2.      Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan tahanan vaskuler sistemik, hipovolemia.
NOC:
a.       Keefektifan Pompa Jantung.
b.      Status tanda vital
NIC:
1)      Kaji dan pantau tekanan darah, status pernapasan dan status mental.
2)      Evauasi repon pasien terhadap terapi oksigen.
3)      Pantau dan dokumentasikan denyut dan irama jantung.
4)      Kaji toleransi aktivitas pasien dengan memperhatikan awal napas pendek, nyeri epigastrik dan kepala, pusing.

3.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh; hipoalbuminemia berhubungan dengan proteinuri.
NOC:
Status nutrisi: serum albumin dalam batas normal, hematokrit dalam batas normal
NIC:
a.       Kaji dan pantau nilai laboratorium terutama kadar albumin serum.
b.      Berikan informasi tentang nutrisi adekuat untuk ibu hamil dengan preeklampsia
c.       Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake makanan yang mengandung protein, besi dan vitamin C, seperti: juice buah atau buah segar.
d.      Kurangi gara, gunakan rempah-rembah dan lada sebagai alternatif lain
e.       Pertahankan berat badan sesuai dengan berat badan normal.

4.      Risiko cedera ibu dan janin berhubungan dengan edema/hipoksia jaringan, vasospasme.
Hasil yang disarankan
Bebas dari tanda-tanda eklampsia
Tidak ada tanda-tanda fetal distress
Tindakan / Intervensi
a.       Kaji dan pantau adanya masalah sakit kepala, gangguan penglihatan, atau perubahan pada pemeriksaan funduscopi.
b.      Perhatikan perubahan pada tingkat kesadaran paisen dan DJJ.
c.       Pantau tanda-tanda distress janin (misal DJJ yang tiba-tiba turun).
d.      Kaji tanda-tanda ekslamsia yang akan datang: hiperaktivitas (3+ sampai 4+ dari reflek tendon dalam, klonus pergelangan kaki, Penurunan nadi dan pernafasan, Nyeri epigastrik dan oliguri.
e.       Lakukan tindakan untuk menurunkan kemungkinan kejang, misalkan pertahankan lingkungan tenang, batasi pengunjung dan tingkatkan istirahat.
f.       Pantau tanda-tanda dan gejala persalinan saat terjadinya kontraksi uterus.
g.      Pantau adannya tanda-tanda toksisitas MgSO4.

5.      Deficit pengetahuan (tentang proses penyakit) berhubungan dengan keterbatasasn paparan, kurangnya informasi.
NOC:
Pengajaran proses penyakit : Mengetahui tanda dan gejala penyakit dan mengetahui tindakan pencegahan
NIC:         
a.       Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang preeklampsia.
b.      Tentukan kemampuan pasien untuk mempelajari informasi.
c.       Tentukan motivasi pasien untuk mempelajari informasi-informasi yang khusus.
d.      Memberikan informasi tentang preeklampsia (tanda dan gejala, pencegahan, dan tindakan yang perlu dilakukan segera jika tanda dan gejala muncul) sesuai dengan tingkat pemahaman pasien.

6.      Nyeri yang berhubungan dengan injuri fisik (tindakan operasi).
NOC: Kontrol nyeri.
NIC: Manajemen nyeri.
a.       Kaji nyeri secara konfrehensip: lokasi, karakteristik, durasi dan frekuensi.
b.      Observasi respon nonverbal.
c.       Kontrol faktor lingkungan yang menyebabkan ketidaknyamanan.
d.      Gunakan teknik nonpharmakologi (hypnosis, guide imagery).
e.       Turunkan nyeri dengan analgetic.
DAFTAR PUSTAKA

Doris, C. B., 1984. Introductory Maternity Nursing. 4th edition. JB. Lippincott Company, Philladelphia.

Johnson, M., Maas, M., 2000. Nursing Outcome Classification (NOC) 2nd ed. Mosby, Inc. St. Louis, Missouri.

Mansjor A, 1999. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Media Aeusculapius, Jakarta.

McCloskey, J., Bulechek, G., 2000. Nursing Interventions Classification (NIC), 4th ed. Mosby, Inc. St. Louis, Missouri.

Muchtar, R, 1998. Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 1, EGC. Jakarta.

NANDA. 2005. Nursing Diagnosis : Definition and Classification 2005-2006. NANDA International. Philadelphia.

Prawiroharjo, 2006. Ilmu Kebidanan, Edisi 2 Cetakan II Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.


Tucker, SM, (1998), Standar Perawatan Pasien, Edisi 5, Volume 4, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.

Sunday, 1 September 2013

Implan Payudara

Implant payudara

A.    Definisi
Sebuah implan payudara adalah prostesis terbuat dari silikon yang dipenuhi dengan garam atau gel silikon. Tujuan utama biasanya estetika: memperbesar payudara pada pembesaran payudara kosmetik, menggantikan jaringan payudara setelah mastektomi, atau membuat payudara dalam Operasi.

B.     Jenis implant
Ada dua jenis implan payudara: implan silikon gel dan implan saline. gel silikon dan implan diisi Saline memiliki wadah yang sama, yang terbuat dari elastomer karet silikon. Perbedaan utama antara kedua adalah solusi yang digunakan untuk mengisi shell. Sebagai nama mereka menyarankan, silikon gel payudara implan diisi dengan gel silikon sementara garam yang penuh diisi dengan air asin atau larutan garam.
Silicone gel implan payudara adalah pra-diisi dengan gel silikon dalam volume yang berbeda sebelum penyisipan mereka ke dalam tubuh. Dokter bedah kosmetik kemudian memilih implan sesuai dengan ukuran payudara yang diinginkan pasien dan memasukkan mereka selama operasi.
Saline-diisi implan payudara, di sisi lain, yang awalnya kosong dan memiliki katup melalui mana larutan garam ditambahkan setelah implan dimasukkan ke dalam tubuh. Karena ini, implan saline memerlukan sayatan yang jauh lebih kecil, yang pada gilirannya berarti bekas luka kecil.

C.     Jenis insisi
Jenis implan payudara sayatan juga bervariasi. Ketiga jenis sayatan umum adalah inframammary (dalam lipatan payudara), periareolar (sekitar puting) dan aksila (bawah lengan). Para pusar atau sayatan endoskopi adalah prosedur yang belum diteliti secara luas, dan saat ini tidak direkomendasikan oleh dokter bedah kosmetik.
Catatan: Sayatan aksilaris merupakan pilihan terbaik bagi wanita yang ingin menyusui nanti dalam kehidupan mereka. Karena sayatan dipotong di bawah lengan, tidak merusak saraf, jaringan kelenjar dan suplai darah. jaringan payudara tidak terganggu, yang berarti bahwa aliran susu juga tidak terganggu.

D.    Resiko kesehatan
implan payudara tidak bertahan selamanya. Meskipun demikian, mitos perkotaan bahwa implan payudara memiliki kecenderungan ke kanan dan kiri pecah sama sekali tidak benar. Bahkan, implan silikon dapat bertahan sampai 5 tahun sebelum mereka perlu diganti, sementara implan saline bisa bertahan sampai 7 tahun sebelum penggantian.
Klaim juga telah dibuat bahwa implan payudara dapat menyebabkan mammogram untuk dibaca salah, yang menghalangi deteksi kanker payudara. Meskipun benar bahwa implan payudara dapat menghalangi pandangan seorang radiolog during mammogram, ada teknik tertentu dan sistem pencitraan khusus yang dapat memberikan solusi untuk masalah ini. Ahli radiologi dilatih untuk mengambil pandangan tambahan, memeriksa payudara secara menyeluruh dan memanipulasi payudara yang berbeda untuk memastikan visibilitas penuh dari daerah dada. Untuk membantu ahli radiologi menghindari salah membaca mammogram, yang terbaik adalah untuk memberitahukan kepadanya tentang prosedur pembesaran payudara yang telah dilakukan.
Contracture kapsuler, suatu kondisi dimana bentuk tubuh jaringan parut sekitar implan. Tubuh berusaha untuk menolak implan karena mereka berusaha untuk melindungi tubuh. Dalam beberapa kasus yang parah, jaringan parut dapat mengencangkan sekitar implan, tekanan yang dihasilkan menyebabkan nyeri hebat dalam individu. Jaringan parut juga dapat menyebabkan implan untuk mendistorsi, membuat payudara sakit dibentuk atau miring. Tidak ada untuk memperbaiki kondisi ini, dengan solusi hanya menjadi penghapusan implan. Kontraktur kapsulare dialami kurang sering oleh mereka dengan implan garam dibandingkan dengan mereka yang memilih implan silikon gel. Ini hanyalah salah satu manfaat keselamatan yang ditawarkan oleh implan saline



DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo, sarwono,2009. Ilmu kebidanan.jakarta
Sulistyawati, ari,2009. Buku ajar asuhan kebidanaan pada ibu nifas. Jakarta
Hyre, anne.2001. asuhan kebidanan care. jakarta : pusdinakes

Syaipudin, abdul bari.2001. paduan pelayanan kesehatan, Jakarta: yayasan bina pustaka.

Sunday, 18 August 2013

SAP (Satuan Acara Penyuluhan) Gizi Pada Anak

SATUAN ACARA PENYULUHAN

POKOK BAHASAN             : Gizi pada Anak
SUB POKOK BAHASAN     : Gizi Seimbang untuk Anak
SASARAN                             : Keluarga Anak N dengan status gizi kurang
HARI/TANGGAL                 : 
WAKTU                                 : 60 menit
TEMPAT                                : Rumah Anak N

I.   LATAR BELAKANG

Konsumsi gizi yang baik dan cukup seringkali tidak bisa dipenuhi oleh seorang anak karena faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal menyangkut keterbatasan ekonomi keluarga sehingga uang yang tersedia tidak cukup untuk membeli makanan. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat didalam diri anak yang secara psikologis muncul sebagai problema makan pada anak.
Anak balita memang sudah bisa makan apa saja seperti halnya orang dewasa. Tetapi merekapun bisa menolak bila makanan yang disajikan tidak memenuhi selera mereka. Oleh karena itu sebagai orang tua kita juga harus berlaku demokratis untuk sekali-kali menghidangkan makanan yang memang menjadi kegemaran si anak.
Intake gizi yang baik berperan penting di dalam mencapai pertumbuhan badan yang optimal. Dan pertumbuhan badan yang optimal ini mencakup pula pertumbuhan otak yang sangat menentukan kecerdasan seseorang.
Faktor yang paling terlihat pada lingkungan masyarakat adalah kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi-gizi yang harus dipenuhi anak pada masa pertumbuhan. Ibu biasanya justru membelikan makanan yang enak kepada anaknya tanpa tahu apakah makanan tersebut mengandung gizi-gizi yang cukup atau tidak, dan tidak mengimbanginya dengan makanan sehat yang mengandung banyak gizi.

II.   TUJUAN PENYULUHAN UMUM

Setelah selesai mengikuti penyuluhan tentang gizi seimbang untuk anakselama 1 x 35 menit keluarga mengetahui makanan yang baik pada anak dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

III.  TUJUAN PENYULUHAN KHUSUS

Setelah selesai mengikuti penyuluhan, peserta mampu:
1.      Mengetahui manfaat gizi seimbang pada anak
2.      Mengetahui gizi yang baik bagi anak

IV. SETTING/TEMPAT



V.   MEDIA DAN ALAT

Laptop, speaker, video

VI.    METODE

a.       Ceramah
b.      Praktek  
c.       Tanya jawab

VII. KISI-KISI MATERI

  1. Definisi makanan seimbang
  2. Kebutuhan gizi balita
  3. Hal yang mendorong terjadinya gangguan gizi
  4. Makanan selingan bagi balita

VIII.   KEGIATAN PENYULUHAN


NO

WAKTU
KEGIATAN
PENYULUH
PESERTA
1.






2.









3.
5 Menit






20 Menit









10 menit
Pembukaan
a.       Salam pembukaan
b.      Perkenalan
c.       Apersepsi
d.      Mengkomunikasikan tujuan

Kegiatan inti penyuluhan
a.     Menjelaskan dan menguraikan materi
b.     Membuka sesi Tanya jawab
c.     Menjawab pertanyaan peserta penyuluhan yang berkaitan dengan materi yang belum jelas.

Penutup
a.       Menyimpulkan materi yang telah disampaikan.
b.      Melakukan evaluasi penyuluhan dengan pertanyaan secara lisan.

c.       Mengakhiri kegiatan penyuluhan.



-          Menjawab salam
-          Memperhatikan
-          Berpartisipasi aktif
-          Memperhatikan



-          Memperhatikan


-          Bertanya






-          Menjawab pertanyaan
-          Menjawab salam

X. SUMBER.
Santosa, Sugeng. 2004. Kesehatan dan Gizi. Jakarta: PT.Rieneka Cipta.
Emawati F . , Yuniar R , Susilawati , Herman . 2000 . Kebutuhan Ibu Hamil Akan Tablet Besi Untuk Pencegahan Anemia . Penelitian Gizi dan Makanan . Jilid 23 : 92
Libuae P . Perbaikan Gizi Anak Sekolah Sebagai Investasi SDM . dalam Kompas 9 September 2002 .
Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi SMA kelas XI. Jakarta: Erlangga.
Sudiyanto. Dalam membina anak dalam mencapai cita-citanya. Tumbuh kembang anak, Fakultas Kedokteran UI.




MATERI PENYULUHAN GIZI SEIMBANG UNTUK ANAK

DEFINISI
Gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh melalui makanan sehari-hari sehingga tubuh bisa aktif dan sehat optimal, serta tak terganggu penyakit atau tubuh tetap sehat

KARAKTERISTIK BALITA
Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Dengan kondisi demikian, sebaiknya anak balita diperkenalkan dengan berbagai bahan makanan. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar dari masa usia prasekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif lebih besar. Namun, perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil daripada anak yang usianya lebih besar. Oleh karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering.

PERAN MAKANAN BAGI BALITA
Makanan sebagai sumber zat gizi
Didalam makanan terdapat enam jenis zat gizi, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Zat gizi ini diperlukan bagi balita sebagai zat tenaga, zat pembangun , dan zat pengatur.
1.      Zat tenaga
Zat gizi yang menghasilkan tenaga atau energi adalah karbohidrat , lemak, dan protein. Bagi balita, tenaga diperlukan untuk melakukan aktivitasnya serta pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu, kebutuhan zat gizi sumber tenaga balita relatif lebih besar daripada orang dewasa.
2.      Zat Pembangun
Protein sebagai zat pembangun bukan hanya untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan organ-organ tubuh balita, tetapi juga menggantikan jaringan yang aus atau rusak.
3.      Zat pengatur
Zat pengatur berfungsi agar faal organ-organ dan jaringan tubuh termasuk otak dapat berjalan seperti yang diharapkan. Berikut ini zat yang berperan sebagai zat pengatur.
a)      Vitamin, baik yang larut air ( vitamin B kompleks dan vitamin C ) maupun yang larut dalam lemak ( vitamin A, D, E, dan K ).
b)      Berbagai mineral, seperti kalsium, zat besi, iodium, dan flour.
c)      Air, sebagai alat pengatur vital kehidupan sel-sel tubuh.

KEBUTUHAN GIZI BALITA
Kebutuhan gizi seseorang adalah jumlah yang diperkirakan cukup untuk memelihara kesehatan pada umumnya. Secara garis besar, kebutuhan gizi ditentukan oleh usia, jenis kelamin, aktivitas, berat badan, dan tinggi badan. Antara asupan zat gizi dan pengeluarannya harus ada keseimbangan sehingga diperoleh status gizi yang baik. Status gizi balita dapat dipantau dengan menimbang anak setiap bulan dan dicocokkan dengan Kartu Menuju Sehat (KMS).
a.       Kebutuhan Energi
Kebutuhan energi bayi dan balita relatif besar dibandingkan dengan orang dewasa, sebab pada usia tersebut pertumbuhannya masih sangat pesat. Kecukupannya akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia.
b.      Kebutuhan zat pembangu
Secara fisiologis, balita sedang dalam masa pertumbuhan sehingga kebutuhannya relatif lebih besar daripada orang dewasa. Namun, jika dibandingkan dengan bayi yang usianya kurang dari satu tahun, kebutuhannya relatif lebih kecil.
c.       Kebutuhan zat pengatur
Kebutuhan air bayi dan balita dalam sehari berfluktuasi seiring dengan bertambahnya usia.


BEBERAPA HAL YANG MENDORONG TERJADINYA GANGGUAN GIZI
Ada beberapa hal yang sering merupakan penyebab terjadinya gangguan gizi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai penyebab langsung gangguan gizi, khususnya gangguan gizi pada bayi dan anak usia dibawah lima tahun (balita) adalah tidak sesuainya jumlah gizi yang mereka peroleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh mereka.
Berbagai faktor yang secara tidak langsung mendorong terjadinya gangguan gizi terutama pada anak Balita antara lain sebagai berikut:
a.       Ketidaktahuan akan hubungan makanan dan kesehatan
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari sering terlihat keluarga yang sungguhpun berpenghasilan cukup akan tetapi makanan yang dihidangkan seadanya saja. Dengan demikian, kejadian gangguan gizi tidak hanya ditemukan pada keluarga yang berpenghasilan kurang akan tetapi juga pada keluarga yang berpenghasilan relatif baik (cukup). Keadaan ini menunjukkan bahwa ketidaktahuan akan faedah makanan bagi kesehatan tubuh mempunyai sebab buruknya mutu gizi makanan keluarga, khususnya makanan anak balita. Menurut Dr. Soegeng Santoso, M.pd, 1999, masalah gizi Karena kurang pengetahuan dan keterampilan dibidang memasak menurunkan komsumsi anak, keragaman bahan dan keragaman jenis masakan yang mempengaruhi kejiwaan misalnya kebosanan.
b.      Prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu
Banyak bahan makanan yang sesungguhnya bernilai gizi tinggi tetapi tidak digunakan atau hanya digunakan secara terbatas akibat adanya prasangka yang tidak baik terhadap bahan makanan itu. Penggunaan bahan makanan itu dianggap dapae menurunkan harkat keluarga. Jenis sayuran seperti genjer, daun turi, bahkan daun ubi kayu yang kaya akan zat besi, vitamin A dan protein dibeberapa daerah masih dianggap sebagai makanan yang dapat menurunkan harkat keluarga.
c.       Adanya kebiasaan atau pantangan yang merugikan
Berbagai kebiasaan yang bertalian dengan pantang makan makanan tertentu masih sering kita jumpai terutama di daerah pedesaan. Larangan terhadap anak untuk makan telur, ikan, ataupun daging hanya berdasarkan kebiasaan yang tidak ada datanya dan hanya diwarisi secara dogmatis turun temurun, padahal anak itu sendiri sangat memerlukan bahan makanan seperti itu guna keperluan pertumbuhan tubuhnya.
d.      Kadang-kadang kepercayaan orang akan sesuatu makanan anak kecil membuat anak sulit mendapat cukup protein.
Beberapa orang tua beranggap ikan, telur, ayam, dan jenis makanan protein lainnya memberi pengaruh buruk untuk anak kecil. Anak yang terkena diare malah dipuasakan (tidak diberi makanan). Cara pengobatan seperti ini akan memperburuk gizi anak. ( Dr. Harsono, 1999).
e.       Kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan tertentu atau disebut sebagai faddisme makanan akan mengakibatkan tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang diperlukan.
f.       Jarak kelahiran yang terlalu rapat
Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa banyak anak yang menderita gangguan gizi oleh karena ibunya sedang hamil lagi atau adiknya yang baru telah lahir, sehingga ibunya tidak dapat merawatnya secara baik.
g.      Anak yang dibawah usia 2 tahun masih sangat memerlukan perawatan ibunya, baik perawatan makanan maupun perawatan kesehatan dan kasih sayang, jika dalam masa 2 tahun itu ibu sudah hamil lagi, maka bukan saja perhatian ibu terhadap anak akan menjadi berkurang.akan tetapi air susu ibu ( ASI ) yang masih sangat dibutuhkan anak akan berhenti keluar.
h.      Anak yang belum dipersiapkan secara baik untuk menerima makanan pengganti ASI, yang kadang-kadang mutu gizi makanan tersebut juga sangat rendah, dengan penghentian pemberian ASI karena produksi ASI berhenti, akan lebih cepat mendorong anak ke jurang malapetaka yang menderita gizi buruk, yang apabila tidak segera diperbaiki maka akan menyebabkan kematian. Karena alasan inilah dalam usaha meningkatkan kesejahteraan keluarga, disamping memperbaiki gizi juga perlu dilakukan usaha untuk mengatur jarak kelahiran dan kehamilan.
i.        Sosial Ekonomi Keterbatasan penghasilan keluarga turut menentukan mutu makanan yang disajikan.
Tidak dapat disangkal bahwa penghasilan keluarga akan turut menentukan hidangan yang disajikan untuk keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun jumlah makanan.
j.        Penyakit infeksi Infeksi dapat menyebabkan anak tidak merasa lapar dan tidak mau makan.
Penyakit ini juga menghabiskan sejumlah protein dan kalori yang seharusnya dipakai untuk pertumbuhan. Diare dan muntah dapat menghalangi penyerapan makanan.
k.      Penyakit-penyakit umum yang memperburuk keadaan gizi adalah: diare, infeksi saluran pernapasan atas, tuberculosis, campak, batuk rejan, malaria kronis, cacingan. ( Dr. Harsono, 1999).

KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN (KEP)
Berikut ini sebab-sebab kurangnya asupan energi dan protein.
a.       Makanan yang tersedia kurang mengandung energi
b.      Nafsu makan anak terganggu sehingga tidak mau makan
c.       Gangguan dalam saluran pencernaan sehingga penyerapan sari makanan dalam usus terganggu
d.      Kebutuhan yang meningkat, misalnya karena penyakit infeksi yang tidak diimbangi dengan asupan yang memadai.

Kekurangan energi dan protein mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan balita terganggu.Gangguan asupan gizi yang bersifat akut menyebabkan anak kurus kering yang disebut dengan wasting. Wasting, yaitu berat badan anak tidak sebanding dengan tinggi badannya. Jika kekurangna ini bersifat menahun ( kronik), artinya sedikit demi sedikit, tetapi dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi kedaan stunting. Stunting , yaitu anak menjadi pendek dan tinggi badan tidak sesuai dengan usianya walaupun secara sekilas anak tidak kurus.

Anak akan kehilangan nafsu makan karena hal-hal sebagai berikut:
a.       Air Susu Ibu yang diberikan terlalu sedikit sehingga bayi menjadi frustasi dan menangis
b.      Anak terlalu dipaksa untuk menghabiskan makanan dalam jumlah/ takaran tertentu sehingga anak menjadi tertekan
c.       Makanan yang disajikan tidak sesuai dengan yang diinginkan / membosankan
d.      Susu formula yang diberikan tidak disukai anak atau ukuran / dosis yang diberikan tidak sesuai dengan sehingga susu yang diberikan tidak dihabiskan
e.       Suasana makan tidak menyenangkan/ anak tidak pernah makan bersama kedua orang tuanya.

Berikut ini beberapa upaya untuk mengatasi anak sulit makan ( faktor organis, faktor psikologis, atau faktor pengaturan makanan )
1)      Jika penyebabnya faktor organis, yang harus dilakukan adalah dengan menyembuhka penyakitnya melalui dokter.
2)      Jika penyebabnya faktor psikologis, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan.
  1. Makanan dibuat dengan resep masakan yang mudah dan praktis sehingga dapat menggugah selera makan anak dan disajikan semenarik mungkin.
  2. Jangan memaksa anak untuk menghabiskan makanan, orangtua harus sabar saat memberi makan anak.
  3. Upayakan suasana makan menyenangkan , sebaiknya waktu makan disesuaikan denga waktu makan keluarga karena anak punya semangat untuk menghabiskan makanannya dengan makan bersama keluarga (orangtua)
  4. Pembicaraan yang kurang menyenangkan terhadap suatu jenis makanan sebaiknya dihindari dan ditanamkan pada anak memilih bahan /jenis makanan yang baik.

Jika penyebabnya adalah faktor pengaturan makanan maka dapat dilakukan beberapa hal berikut ini.
a.       Diusahakan waktu makan teratur dan makanan diberikan pada saat anak benar-benar lapar dan haus
b.      Makanan selingan dapat diberikan asalkan makanan tersebut tidak membuat anak menjadi kenyang agar anak tetap mau makan nasi.
c.       Untuk membeli makanan jajanan sebagai makanan selingan, sebaiknya didampingi oleh orang tuanya sehingga anak dapat memilih makanan jajanan yang baik dari segi kandungan gizi maupun kebersihannya.
d.      Kuantitas dan kualitas makanan yang diberikan harus diatur disesuaikan dengan kebutuhan/kecukupan gizinya sehingga anak tidak menderita gizi kurang atau gizi lebih.
e.       Bentuk dan jenis makanan yang diberikan harus disesuaikan dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.

MENU MAKANAN BALITA
Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak. Oleh karenanya, pola makan yang baik dan teratur perlu diperkenalkan sejak dini, antara lain dengan pengenalan jam-jam makan dan variasi makanan.
Gizi seimbang dapat dapat dipenuhi dengan pemberian makanan sebagai berikut :
• Agar kebutuhan gizi seimbang anak terpenuhi, makanan sehari-hari sebaiknya terdiri atas ketiga golongan bahan makanan tersebut.
• Kebutuhan bahan makanan itu perlu diatur, sehingga anak mendapatkan asupan gizi yang diperlukannya secara utuh dalam satu hari. Waktu-waktu yang disarankan adalah:
o Pagi hari waktu sarapan.
o Pukul 10.00 sebagai selingan. Tambahkan susu.
o Pukul 12.00 pada waktu makan siang.
o Pukul 16.00 sebagai selingan
o Pukul 18.00 pada waktu makan malam.
o Sebelum tidur malam, tambahkan susu.
o Jangan lupa kumur-kumur dengan air putih atau gosok gigi.

Contoh Pola Jadwal Pemberian Makanan Menjelang Anak Usia 1 Tahun
Perlu diketahui, jadwal pemberian makanan ini fleksibel (dapat bergeser, tapi jangan terlalu jauh)
• Pukul 06.00 : Susu
• Pukul 08.00 : Bubur saring/Nasi tim
• Pukul 10.00 : Susu/Makanan selingan
• Pukul 12.00 : Bubur saring/Nasi tim
• Pukul 14.00 : Susu
• Pukul 16.00 : Makanan selingan
• Pukul 18.00 : Bubur saring /nasi tim
• Pukul 20.00 : Susu.

MAKANAN SELINGAN BALITA
Pada usia balita juga membutuhkan gizi seimbang yaitu makanan yang mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sesuai umur. Makanan seimbang pada usia ini perlu diterapkan karena akan mempengaruhi kualitas pada usia dewasa sampai lanjut.
Gizi makanan sangat mempengaruhi pertumbuhan termasuk pertumbuhan sel otak sehingga dapat tumbuh optimal dan cerdas, untuk ini makanan perlu diperhatikan keseimbangan gizinya sejak janin melalui makanan ibu hamil. Pertum-buhan sel otak akan berhenti pada usia 3-4 tahun.
Pemberian makanan balita sebaiknya beraneka ragam, menggunakan makanan yang telah dikenalkan sejak bayi usia enam bulan yang telah diterima oleh bayi, dan dikembangkan lagi dengan bahan makanan sesuai makanan keluarga.
Pembentukan pola makan perlu diterapkan sesuai pola makan keluarga. Peranan orangtua sangat dibutuhkan untuk membentuk perilaku makan yang sehat. Seorang ibu dalam hal ini harus mengetahui, mau, dan mampu menerapkan makan yang seimbang atau sehat dalam keluarga karena anak akan meniru perilaku makan dari orangtua dan orang-orang di sekelilingnya dalam keluarga.
Makanan selingan tidak kalah pentingnya yang diberikan pada jam di antara makan pokoknya. Makanan selingan dapat membantu jika anak tidak cukup menerima porsi makan karena anak susah makan. Namun, pemberian yang berlebihan pada makanan selingan pun tidak baik karena akan mengganggu nafsu makannya.
Jenis makanan selingan yang baik adalah yang mengandung zat gizi lengkap yaitu sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral, seperti arem-arem nasi isi daging sayuran, tahu isi daging sayuran, roti isi ragout ayam sayuran, piza, dan lain-lain.
Fungsi makanan selingan adalah :
1.         Memperkenalkan aneka jenis bahan makanan yang terdapat dalam bahan makanan selingan.
2.         Melengkapi zat-zat gizi yang mungkin kurang dalam makanan utamanya (pagi, siang dan malam).
3.         Mengisi kekurangan kalori akibat banyaknya aktivitas anak pada usia balita.

Makanan selingan yang baik dibuat sendiri di rumah sehingga sangat higienis dibandingkan jika dibeli di luar rumah.

Bila terpaksa membeli, sebaiknya dipilih tempat yang bersih dan dipilih yang lengkap gizi, jangan hanya sumber karbohidrat saja seperti hanya mengandung gula saja. Makanan ini jika diberikan terus-menerus sangat berbahaya. Jika sejak kecil hanya senang yang manis-manis saja maka kebiasaan ini akan dibawa sampai dewasa dan risiko mendapat kegemukan menjadi meningkat. Kegemukan merupakan faktor risiko pada usia yang relatif muda dapat terserang penyakit tertentu.